Blogger templates

Sabtu, 31 Agustus 2013

MAKNA SABAR

Sabar, syukur, dan ikhlas merupakan tiga kata yang ringkas dan ringan diucapkan, tetapi berat dipraktikkan. Meskipun berat, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk meraih sifat sabar, syukur, dan ikhlas. Begitu pentingnya, sehingga sabar, syukur, dan ikhlas bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar lagi.

SABAR, kata para ahli bahasa, secara harfiah berarti “bertahan” atau “menahan diri”. Sebuah sifat mulia yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, dalam status dan peran apa pun.

Sabar merupakan sifat mulia dan disukai Allah. Dengan kesabaran jiwa seseorang tidak akan lemah dalam menghadapi berbagai bentuk ujian dan cobaan. Sabar dapat membuat seseorang tidak patah semangat dalam menghadapi goncangan dan kesulitan dalam hidup, dan sabar juga merupakan ukuran taqwa dan iman seseorang.

Disisi lain sabar mempunyai dua macam makna ;
1. Sabar yang berarti lapang dada dan tabah dalam menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian yang menimpa diri,
2. Mushabarah yang berarti tabah dan teguh menghadapi persaingan dalam memperjuangkan suatu cita-cita. Disinilah kita diuji apakah kita mampu menghadapi persaingan, teguh mempertahankan prinsip dan lebih tabah dalam menjalaninya

Sabar dapat dibagi dalam tiga hal, yakni ;
1. Sabar dalam mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
Kita harus bersabar untuk membiasakan sesuatu yang baik dan benar. Meskipun ”yang baik dan benar” itu tidak selamanya dianggap wajar oleh semua orang. Bahkan – konon kabarnya – orang yang selalu membiasakan yang baik dan benar harus rela menjadi seseorang dan sekelompok orang yang terpinggirkan, hanya karena menyempal dari kebiasaaan mayoritas. Dia bersama dengan kelompoknya harus bersedia menjadi ghurabâ’, sekelompok manusia yang – kata Nabi s.a.w – selalu melakukan ishlâh (perbaikan diri dan komunitasnya) untuk kepentingan kemanusiaan-universal, di ketika mayoritas (manusia) sedang menikmati sistem dan b budaya korup. Rasa haus dan lapar – sebagai media untuk memahami realitas sosial-kemanusia – dalam berpuasa bagi setiap muslim sudah seharusnya menjadi tindakan yang proaktif yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, — disamping menjadikan dirinya semakin dekat kepada Allah, juga benar-benar berimplikasi pada lahirnya tindakan kepedulian-sosial untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial-kemanusiaan yang tidak pernah sepi (selalu) berada di hadapannya. Di sinilah doktrin amar ma’ruf menemukan implementasinya.

2. Sabar dalam menghadapi dorongan hawa nafsu yang tidak baik.
Kita harus bersabar untuk tidak melakukan kemungkaran. Tindakan proaktifnya adalah: melawan segala tindakan yang merugikan diri dan semua orang. Seorang muslim yang memiliki sikap sabar, tidak akan pernah berputus asa untuk melaksanakan misi kerahmatan Islam, menuju visi yang sama: menggapai rahmat Allah (dalam pengertian yang lebih substantif). Seperti pesan-moral Nabi s.a.w.: ”tidak pernah ada kata putus asa (bagi setiap muslim) untuk menggapai rahmat Allah”. Setiap muslim (sudah seharusnya) memiliki kesabaran untuk mengupayakan wujudnya rahmat Allah di tengah-tengah umat manusia, dengan selalu peduli untuk ber”nahi munkar”. Dengan kata lain, kita (setiap muslim) wajib bersabar untuk terus melawan segala bentuk kemungkaran, oleh siapa pun kepada siapa pun.

3. Sabar dalam menghadapi musibah atau cobaan yang datang dari Allah.
Kita harus bersabar terhadap takdir Tuhan. Sabar di sini adalah ridha terhadap semua kejadian yang menimpa diri kita, yang berarti imsâk dari sikap mengeluh, apalagi menyesali setiap perolehan dari Allah, dengan sikap dan tindakan yang serba-positif. Dengan demikian sabar adalah melakukan refleksi-kritis terhadap berbagai hal yang menimpa diri kita. Karena betapa pun Allah (dengan segala kebijakan dan keberpihakan-Nya terhadap diri kita) tidak akan pernah sekali pun bersikap zalim terhadap hamba-Nya. Bahkan kita perlu berkontemplasi dengan selalu bertanya: peringatan, ujian dan nikmat-terselubung apa yang tengah diberikan oleh Allah terhadap diri kita, di saat musibah silih-berganti menyapa diri kita? Inikah pelajaran terbaik dari Allah pada diri kita, setelah kita terlalu banyak lupa untuk mengingat-Nya?

Sabar bukan berarti menyerah atau kalah terhadap keadaan yang dihadapi tanpa daya upaya dan kesungguhan, melainkan mengerahkan seluruh kemampuan, daya dan tenaga yang ada untuk menghadapi persaingan, penderitaan dan kepahitan hidup. Kesabaran tidak selalu harus dimaknai sebagai sikap “pasif”, pasrah terhadap keadaan, menerima apa adanya, yang selanjutnya bahkan sering dipersepsi (secara tidak tepat) sebagai sikap “qana’ah”. Lebih bermakna dari itu semua, kesabaran sudah semestinya dipandang sebagai sikap proaktif untuk mengubah keadaan “menjadi serba lebih baik”.

Orang yang sabar lebih dapat merasakan ketenangan, keluasan berfikir dan kedalaman menganalisa masalah. Dengan kesabaran seseorang dapat melakukan tindakan-tindakan pencegahan akan segala kerugian yang mungkin menimpa dirinya karena kekeliruan yang tidak diperhitungkan. Selain dari ketenangan, orang yang sabar akan memperoleh banyak teman dan mudah dekat dengan orang lain, sekalipun mereka membencinya.

Konon kabarnya, seseorang yang tengah menghadapi rintangan yang berat, terkadang hati kecilnya membisikkan agar ia berhenti (berputus asa), meski yang diharapkannya belum tercapai. Dorongan hati kecil itu selanjutnya menjadi keinginan jiwa. Dan jika keinginan itu ditahan, ditekan, dan tidak diikuti, maka tindakan ini merupakan pengejawantahan dari hakikat sabar yang mendorongnya agar tetap melanjutkan usahanya walaupun harus menghadapi berbagai rintangan yang berat. Dia akan terus berproses untuk menjadi apa dan siapa pun yang dicita-citakannya dalam suka dan duka, dengan cara apa pun yang terus ia cari dalam bentuk kreativitas untuk selalu berbuat sesuatu, kapan dan di mana pun.

Betapa pun sulitnya kita menanamkan sikap sabar ke dalam diri kita, kesabaran (yang merupakan energi dan kekuatan diri kita) harus selalu melekat pada setiap pribadi. Dengan kesabaran yang tinggi, seseorang pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan yang sangat fluktuatif, kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Sabar pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang harus ditunjukkan dengan keluhan, penyerahan-diri, dan bukan pula sikap pasif untuk tidak beraktivitas apa pun. Sabar harus menjadi instrumen untuk membangun ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang serba-positif, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Justeru, bagi setiap orang yang bisa bersabar, rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya.

Dalam kehidupan, kita harus selalu berpikir untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan dan melahirkan kreativitas dengan spirit kesabaran. Kesabaran untuk meraih Sesutu yang terbaik kadangkala membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tidak cukup dengan satu kali cobaan, sehingga seseorang semakin terbukti dan teruji.

Seseorang yang memilik kesabaran tidak pernah akan mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui untuk meraih kesuksesan. Dia juga tidak pernah bosan untuk menghadapi tantangan. Dan kita pun bisa berkesimpulan, bahwa kesabaran dalam tiga dimensinya harus selalu ada pada setiap pribadi :
1. Sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsâk ketika menghadapi godaan setan yang selalu membujuk untuk bermaksiat, dengan satu kesedian untuk mengatakan “tidak“ terhadap setan, di ketika mereka membujuknya untuk mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
2. Sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsâk untuk berbuat baik dan benar, dengan satu kesediaan untuk mengatakan “ya“ terhadap semua pertintah Allah dan Rasul-Nya.
3. Sabar dalam pengertian berkemauan dan berkemampuan menempuh laku imsâk di ketika menghadapi musibah, dengan berkemauan dan berkemampuan untuk mengendalikan emosi, sehingga tidak sampai bersikap putusasa dalam menghadapi semua persoalan hidup, betapa pun beratnya, dengan satu kesediaan untuk mengatakan “innâ lillâ wa innâ ilaihi râji’ûn“ (semuanya milik Allah, dan pasti (hanya akan) kembali kepada-Nya).

Setelah kita pahami esensi sikap sabar yang kita miliki, kita pun bisa bertanya kepada diri kita : Kenapa harus pesimis ? Dengan sikap sabar (yang proporsional), masa depan akan selalu kita hadapi dengan sikap optimis !

Akhirnya…… kunci sukses dalam menghadapi segala ujian adalah bersikap sabar dan berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa karena ketentuan segala sesuatu ada di tangan Nya……..


0 komentar:

Posting Komentar